Berita tentang ad blocker kini kembali dibicarakan, terlebih dengan adanya info bahwa Google akan memasang ad blocker pada browser Google Chrome. Ad blocker sendiri menjadi ‘penyelamat’ bagi pengguna internet yang kesal akan iklan online dan menjadi ‘musuh’ untuk para pengiklan dan website yang mengandalkan pemasukan dari iklan.

Tidak bisa di pungkiri, bahwa sebagian besar pemasukan sebuah website terutama dari iklan. Iklan lah yang bisa membuat kita posting banyak foto di Facebook, menggunakan penyimpanan cloud di Google Drive, menonton video online di Youtube tanpa mengeluarkan biaya (terkecuali biaya koneksi Internet). Pada blog ini sendiri gue memasang Google Ads, meskipun sama sekali ga gue andalkan untuk menghasilkan uang.

Gue sebagai pengguna Internet memasang ad blocker pada browser, namun dengan sebuah kententuan yang gue buat (akan gue jelasin di akhir nanti). Kenapa gue memasang ad blocker? berikut akan gue jabarkan alasan kenapa gue memasang ad blocker.

1. Penempatan iklan yang tidak proposional

Gue ga alergi dengan iklan, asalkan pemasangannya proposional pada sebuah website. Berikut gue sertakan screenshot 2 website berita, Detik dan New York Times.

halaman depan detik
halaman depan nytimes

Saat pertama kali membuka Detik.com, maka kamu akan ‘disambut’ dengan iklan, bukan berita. Belum lagi terkadang suka ada video ads yang otomatis jalan. Buat gue sih ini udah menggangu. Jika kamu membuka NY Times, maka kamu akan melihat penempatan iklan lebih proposional. Gue lebih nyaman membaca NY Times daripada Detik.

2. Iklan jahat

Salah satu alasan Google membuat fitur ad block pada Google Chrome adalah adanya iklan jahat (Bad Ads). Iklan jahat adalah iklan yang menggangu, seperti iklan yang muncul sendiri (biasanya pop-up ads), iklan yang melakukan tracking pengguna bahkan ada iklan yang membawa malware.

Seperti yang gue jelaskan di atas, gue menggunakan ad blocker (kebetulan Opera sudah punya built-in ad blocker). Namun, jika ada website yang sering gue kunjungi / gue suka kontennya, maka gue akan memasukan website tersebut ke dalam unblock list.

Jadi, wajibkah memasang ad blocker? Jawaban gue adalah wajib. Namun kamu juga harus membuat ketentuan kamu sendiri tentang website yang ada baiknya kamu masukkan ke dalam list unblock.

Pada postingan blog gue sebelumnya, gue menulis bahwa gue migrasi dari Windows 10 ke Lubuntu. Sekarang, karena hard disk gue terkena bad sector, gue terpaksa berpindah dari Lubuntu ke Linux Mint. Kenapa pindah? karena-entah-kenapa, ketika gue menginstal ulang Lubuntu, Lubuntu beberapa kali error dalam penulisan boot sector. Penasaran kenapa gagal tulis, gue mencoba instal Linux Mint dan proses instalasi berhasil selesai. Ya jadilah gue menggunakan Linux Mint.

Linux Mint yang gue gunakan adalah Linux Mint MATE. MATE adalah DE yang cakep dan elegan, namun lumayan berat jika dibandingkan LXDE, DE pada Lubuntu. Gue termasuk orang yang cukup sensitif dengan penggunaan resource laptop (ya karena laptop gue bukanlah laptop canggih).

Gue sempat mencoba untuk menggunakan XFCE4, namun entah kenapa, kurang sreg dengan XFCE4. Akhirnya gue menginstal LXDE dan menjadikan LXDE sebagai DE default. Yup, gue tau kalo LXDE sedang sekarat, namun sejauh ini gue merasa nyaman dengan LXDE.

Berikut perbandingan penggunaan resource antara MATE dan LXDE:

Penggunaan resource dengan MATE sebagai DE
Penggunaan resource dengan LXDE sebagai DE

Dari hasil percobaan di atas, MATE menggunakan resource (baik RAM dan CPU) lebih daripada LXDE, meskipun perbedaannya tidak terlalu jauh.

MATE sendiri tidak gue remove dari sistem karena beberapa aplikasinya berguna buat gue. Gue lebih suka Caja daripada PCManFM (eject hard disk external lebih mudah menggunakan caja).

Satu hal yang gue temui saat menggunakan Linux Mint 18.1 adalah beberapa kali laptop gue suka freeze sendiri. Tadinya gue pikir ini karena hard disk gue yang bad sector. Namun setelah googling lebih lanjut, ternyata ada sebuah bug untuk controller graphic laptop gue (laptop gue Asus X200MA). Herannya gue ga merasakaan random freeze saat menggunakan Lubuntu.