May 2013

Pernah denger nama Jux? engga pernah? sama. Setidaknya itu yang gue alami sekitar 6 bulanan yang lalu. Jux itu layanan micro-blogging, semacam tumblr, blogger dan twiter dijadiin satu gitu. Gue menemukan Jux secara ga sengaja ketika lagi searching free blog. Gue sendiri menggunakan Jux untuk main domain gue (jonneh.web.id) menggantikan tumblr.
Jux itu simple, lo bisa masukin apa aja: foto, tulisan, bikin slideshow atau bahkan hanya bikin qoute doang. Jux tidak memiliki fitur themes, namun desainnya sendiri simpel dan elegan. Gue suka fitur slideshownya dimana gue menggunakannya untuk portfolio foto-foto gue. Jux mendukung custom domain, dimana lo bisa menggunakan domain lo sendiri, selain subdomain bawaan Jux.

Namun, kemarin gue baca email dari Jux, bahwa Jux akan ditutup. Menurut pendiri Jux, Jux kurang ‘menarik’ investor, dimana dalam dunia start-up, Investor merupakan ‘malaikat penolong’ untuk membantu financial hingga suatu start-up itu bisa menghasilkan uang. Contoh start-up yang sukses adalah facebook dan twitter, dimana mereka baru bisa menghasilkan uang setelah beberapa lama berdiri. Jux sendiri sebenarnya sudah mempunyai banyak anggota, namun ternyata hal itu juga belum cukup untuk menarik Investor. Pada akhirnya pendiri Jux memutuskan untuk menutup layanan ini.
Sebenarnya sangat disayangkan Jux tutup, karena fiturnya yang asik untuk membuat sebuah website ‘portfolio’. Namun apa hendak dikata, Jux tutup. Untuk saat ini gue kembali menggunakan Tumblr sebagai main website gue. Mungkin gue akan menghosting sendiri, entahlah. Belum ada ide untu ngedesain web.
Well, at least, thaks Jux for everything. Sayonara 🙂

Sabtu kemaren gue mempunyai ide yang cukup ngaco, gue pengen ke Bakaheuni. Gue pengen moto Kapal laut yang besar2 :D. Sebenarnya ide untuk moto kapal laut udah ada sebulan lalu, dimana gw mencoba untuk pergi ke pelabuhan Tanjung Priok, namun ga tau cara masuk pelabuhannya :D. So, akhirnya gue memutuskan untuk jalan-jalan ke Bakaheuni saja, sekalian mengingat masa kecil, waktu sering pulang kampung ke Sumut lewat jalur darat.
Perjalanan dimulai dari depok jam setengah 8 pagi, cukup siang dari rencana mau pergi jam 5 pagi. Sampai di terminal Kp Rambutan jam 8 lewat, gue langsung cari bis Primajasa trayek Kp Rambutan – Merak. Ongkosnya cukup murah, hanya 17.000 saja. 20 menit kemudian bis berangkat dan sebuah tragedi dimulai. Bis jalan pelaaaan banget, ada kali 1 meter per jam. sambil menunggu penumpang. Hal pertama yang gue kesel adalah, masa dari Terminal hingga masuk tol TB Simatupang butuh waktu 40 menit!! astaga. Hal kedua adalah seenak udelnya bis menurunkan-naikkan penumpang di tengah jalan, hingga membuat bis menjadi kaleng sarden. Hal inilah yang sebenarnya membuat gue malas berpergian naik bis, lebih mending naik kereta api jarak jauh. Tapi, tak apalah, namanya juga mau negbolang.
Sampe di terminal terpadu Merak, gue mencoba untuk mencari makan, karena harga makanan di kapal pasti mahal. Setelah makan siang selesai, gue pun menuju pelabuhan. Harga tiket naik Kapal Ferry cuman 11.500, murah kok. Kaki ini kemudian melangkah menuju ke kapal ferry. Dan untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, gue berada di selat sunda. Kurang lebih 40 menit kemudian, kapal berlayar ke Bakaheuni. Ah, gue menemukan pemandangan yang hampir 15 tahun ga pernah terlihat lagi, selat sunda.
kesibukan di pelabuhan merak

kesibukan di pelabuhan merak
Anak Koin
Di kapal ferry, ada beberapa kelas penumpang, dimana yang paling miris adalah kelas ekonomi. Dimana di ruang kecil itu, ada orkes dangdut yang suaranya menyiksa kuping. Gue sendiri memilih untuk duduk di buritan dan di dek kapal. Menikmati angin laut yang cukup kencang dan terik matahari yang membakar kulit, gue berasa kayak lagi di kapal yatch. lagi asik-asiknya berhayal memikirkan ekonomi negara, gue merasa bahwa kapal berhenti. Wah, ada apakah ini? ternyata kapal nge-tem dulu karena menunggu giliran untuk berlabuh. Hampir 30 menit kapal ngetem, lalu kapal berjalan kembali.

Pelabuhan Bakaheuni!!, akhirnya sampe juga. Dari kejauhan terlihat menara siger yang berdiri menjulang diatas bukit. Gue pun turun dari kapal dan mulai menjelajah pelabuhan. Sebenarnya pengen banget menjelajah ke lampung, tapi akibat waktu yang ternyata habis di jalan, akhirnya gue memutuskan untuk jalan-jalan aja di pelabuhan.

Menara Siger
Hampir sejam gue berada di bakaheuni, dan akhirnya gue memutuskan untuk pulang. Ternyata gue naik ferry yang sama dengan yang gue naikin tadi. astajim. Kapal pun berangkat kembali. Karena udah mulai magrib, gue mencoba untuk mencari minuman hangat. Alangkah terkejutnya ketika mengetahui bahwa harga kopi di kapal itu 10rebu!!. Harga mie seduh juga 10rebu, yah mending gue beli mie seduh. Seinget gue dulu, 15 tahun yang lalu masih ada pedagang umum yang jualan di ferry, tapi sekarang hanya kru kapal yang berjualan.
Dari kejauhan bakaheuni keliatan cantik di malam hari. Ditemani bulan purnama, akhirnya gue kembali berhayal untuk memikirkan kembali ekonomi dunia. Dan tragedi masih berlanjut. kapal pun nge-tem di laut hingga 1 jam! astajim, kacau lagi dah jadwal. Gue tiba di merak jam 10 malam dan sudah tidak ada bis primajasa lagi yang beroperasi. Akhirnya gue naik bis lain, dan tragedi lagi. Busnya jalannya lama, dan di gerbang tol Karang Tengah, bis mogok. yahuuii,, tragedi oh tragedi. Gue sampe di depok sekitar jam setengah 4. Perjalanan yang melelahkan namun mengasikkan.