June 2013

Pernah berpikir ga? kira-kira kapan yah kamera gue ‘mati’?? nah, kalo kalian salah satu diantara orang-orang yang menebak-nebak umur kamera sendiri, gue punya sedikit petunjuk.
Sebagaimana diketahui, sensor kamera digital itu bekerja ‘mengantikan film kamera’ sebagai wadah menangkap ‘cahaya’. Nah kinerja sensor kamera lama-lama akan menurun seiring seringnya pemakaian dan umur kamera (umur kamera ini dari awal pembelian/tahun pembuatan, bukan umur sensor)  itu sendiri.
Salah satu petunjuk yang memudahkan kita untuk mengetahui apakah sensor kamera kita ‘mengalami penuaan’ ada beberapa, antara lain pudarnya warna, munculnya noise dan hot pixel.

Pudarnya warna ini ditandai dengan menurunnya kemampuan sensor kamera untuk menangkap intensitas cahaya. Kamera itu sejatinya (tanpa filter, picture style, etc) meniru kerja mata kita. Nah jika kita memotret sebuah objek dan warnanya ‘pudar’ ga seperti warna aslinya, bisa jadi sensor kita telah menurun kemampuannya dalam menangkap cahaya.
Noise itu wajar, apalagi jika menggunakan ISO tinggi, noise dan ISO tinggi udah temenan sejak kamera diciptakan :D. Namun, sebuah kamera yang sudah ‘layu’ akan muncul noise lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Misal, jika 1-2 tahun lalu kamu memotret dengan ISO 800 yang muncul sedikit, nah sekarang jika motret di ISO 800 noisenya makin banyak. Atau biasanya motret di ISO 200 ga ada noise, sekarang mulai muncul noise. Itu tandanya sensor kamera kamu udah menua juga.
Hot Pixel ini biasanya ditandai dengan warna merah atau hitam pada foto dimana seharusnya tidak muncul. Hot Pixel itu disebabkan adanya pixel yang mati di sensor. Nah jika kamu menemukan hot pixel, apalagi lebih dari satu, maka itu bisa menjadi petanda akan menua-nya sensor kamera kamu.
Bagaimana dengan Shutter Count? SC ini lebih ke arah mekanisme shutter dimana bisa berkerja dengan baik. SC kamera memang tidak bisa dijadikan patokan pasti, namun bisa dijadikan pertimbangan jika kamu membeli kamera digital. Jika SC sebuah kamera besar, berarti kamera itu sering bekerja dan sensor juga sering bekerja. Sensor sering bekerja, berarti mempercepat ‘kematian’ kamera itu sendiri. pengambilan foto secara brust (beruntun) juga bisa memperpendek umur sensor kamera.
Nah jika kamera kamu mulai menunjukkan pertanda seperti diatas, mungkin sudah saatnya kamu menabung untuk membeli kamera baru. Oya petunjuk ini juga bisa loh dijadikan pertimbangan untuk membeli kamera bekas.
Selamat menebak umur kamera kalian 🙂

Post thumbnail
HDR atau High Dynamic Range (imaging) itu adalah sebuah tenik fotografi dimana 2 atau lebih foto yang berbeda exposure (tetapi sama objeknya) digabungkan menjadi satu dengan bantuan software tertentu dengan tujuan untuk membuat detail foto lebih terlihat. Salah satu software yang bagus untuk digunakan membuat foto HDR adalah Photomatix. Namun, sebelum memulai tutorialnya, gue pengen sedikit menjelaskan tentang Dynamic Range.

Dalam fotografi, dynamic range itu di ukur dari perbedaan nilai exposure antara bagian gelap dan terang suatu cahaya. Simpelnya begini, fotografi sendiri adalah seni menangkap cahaya. Dalam sebuah foto, cahaya tersebut ada yang gelap, ada yang terang. Perbedaan itulah yang membuat istilah dynamic range

Setiap kamera digital mempunyai kemampuan berbeda dalam menangkap ‘cahaya’. Kemampuan Canon 1000d dalam menangkap ‘cahaya’ tentu kalah dibandingkan dengan canon 5d markIII. Semakin canggih (dan mahal) sebuah kamera, semakin bagus kemampuannya menghadirkan dynamic range pada foto. Semakin bagus dynamic rangenya, semakin detail foto yang dihasilkan (tentu juga bisa dibantu dengan pemilihan lensa bagus dan filter GND).

Nah berikut contoh foto yang diambil menggunakan Canon 40d.
contoh foto dengan exposure 0

Diatas merupakan contoh foto alam yang diambil dengan nilai exposure 0. Jika kita lihat, bagian langit terlihat sedikit terang (sehingga detail awan tidak terlihat jelas) dan bagian sawah terlihat sedikit gelap. Jika kita ingin membuat detail awan terlihat lebih lagi, kita bisa memotret dengan mengurangi exposure, namun akan berakibat sawah menjadi semakin gelap. Begitu juga sebaliknya, jika kita ingin membuat sawah terlihat terang, kita bisa menaikan nilai exposure, namun akan berakibat langit semakin cerah dan bisa menghilangkan awan.

exposure -1
exposure +1

Lalu akan muncul sebuah pertanyaan, bagaimana caranya agar semua detail pada foto itu dapat? HDR adalah salah satu jawabannya. Foto HDR biasanya memiliki contrast dan detail yang tajam. Kita bisa membuat foto HDR dengan menggabungkan berbagai foto dengan exposure berbeda, maka semua detail foto akan terlihat.

Persiapan Sebelum Memotret
Sebelum kita memulai membuat foto HDR, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan, yaitu:
  • Membawa Tripod. Karena kita akan mengambil beberapa foto yang sama, ada baiknya kita menggunakan tripod sehingga akan mengurangi resiko ‘foto bergeser’ karena getaran tangan
  • Menggunakan lensa secara manual.  Karena kita akan memotret banyak foto, ada baiknya kita menggunakan manual focus sehingga bisa meminimalisasi fokus lensa yang berubah.
Nah jika persiapan sebelum memotret sudah, maka sekarang saatnya memotret:
  1. Karena kita akan memotret beberapa foto dengan exposure berbeda, kita akan menggunakan fitur AEB (Automatic Exposure Bracketing). Cari di menu kamera kamu fitur ini (AEB), lalu ubah nilainya menjadi seperti ini    -2..-1..0..1..2 . (*)
  2. Settinglah file tipe kamu ke jpeg. (**)
  3. Potretlah objek yang ingin kamu abadikan. Perlu diperhatikan terkadang AEB akan bergeser ketika diarahkan ke objek. Jika AEB bergeser, maka seting AEB seperti langkah no 1. Jepretlah sebanyak 3 kali (kamera akan otomatis mengubah exposure bracket saat jepret ke 2 dan ke 3 kali, jadi biarkan saja).
  4. Transfer foto kamu ke computer.

Sekarang, kita akan melakukan proses pembuatan foto HDR dengan bantuan Photomatix, adapun langkahnya yaitu:

  1. Pada Photomatix, pilih Load Bracketed Photos 
  2. Pada jendela “Loading Bracketed Photos“, pilihlah foto yang telah kamu transfer. Ingat, pilih 3 fotonya yah, yang normal, under dan over. 

  3. Jika muncul layar “setting of Exposure Values” muncul, berarti Photomatix tidak bisa menebak secara pasti nilai exposure foto kamu. Ubahlah setingannya sesuai dengan pilihan di AEB tadi (dalam contoh ini kita memilih -1,0,1).

  4. Dalam layar “Preporcessing Options“, ikuti pilihlah berikut ini (kamu juga bisa bereksperimen sendiri) . Jika sudah, klik Ok 

  5. Nah sekarang akan muncul foto HDR kamu. Tapi foto ini masih belum selesai. Disebelah layar kamu adalah jendela “Preset“, disitu kamu bisa memilih beberapa preset yang bisa kamu gunakan untuk membuat foto kamu semakin ciamik. Disamping kiri juga ada fitur “adjustment” yang berguna kalau kamu kurang suka dengan hasil “preset“. Jika kamu sudah mengutak-atik, klik process.

  6. Sekarang tinggal 1 langkah lagi, yaitu finishing. Pada jendela “finishing touch” kamu bisa memilih pilihan “contrast“, “color” dan “sharpening“. Silakan diutak-atik sendiri yaa :). Jika sudah, klik done. 

  7. Sekarang kamu tinggal menyimpan foto kamu. Pilih File > Save as.

  8. Done
hasil HDR

Nah sekarang foto HDR kamu sudah jadi. Jika kita lihat, maka detail foto (baik awan, padi atau gunung) terlihat lebih jelas dibandingkan dengan foto sebelumnya.

Tutorial berikutnya kita akan membuat 1 file RAW menjadi foto HDR. Ditunggu yah 🙂
Note:
(*) untuk menentukkan AEB sebenarnya terserah kamu, ada lebih baiknya kalau kamu berkesperimen dengan AEB.
(**)sebenarnya file RAW akan lebih bagus hasilnya, namun sedikit menyulitkan mengolahnya untuk pemula, jadi di tutorial ini gue memilih menggunakan file JPEG.