Celetuk

Post thumbnail

Gue adalah seorang sosial media junkie. Gue punya beberapa akun social media terkenal mulai dari Friendster, Facebook, Twitter, Instagram, Path, Pinterest hingga kurang terkenal seperti Google+, Beebo, Hi5, Fupei (sosmed lokal tapi sudah tidak aktif) dan beberapa sosmed lainnya.

Alasan gue ikut banyak sosmed adalah karena gue pengen eksis di dunia maya dan sekaligus mencari pertemanan. Gue masih inget sensasi tau Friendster gebetan dan meinggalkan pesan di page gebetan (pake gliter-gliter juga loh), kenalan hingga punya beberapa gebetan di Facebook dsb. Jaman sebelum 2012 itu gue merasa nyaman pake sosial media.

Namun kesenangan menggunakan sosmed mulai terganggu di tahun 2012 di saat pilkada DKI. Beberapa pengguna sosial media mulai menggunakan sosial media untuk kampanye hitam. Hal ini ditambah dengan pilpres 2014 dan pilkada 2017 DKI. Dunia sosial media pun berubah. Banyak postingan Hoax, debat kusir hingga kawan jadi lawan. Awalnya gue berusaha menghindar namun akhirnya tidak tahan.

Post thumbnail

Jepang termasuk salah satu negara yang mengijinkan perburuan paus. Paus sendiri adalah hewan liar yang di lindungi. Namun kenapa negara maju seperti Jepang masih melegalkan perburuan paus?

Nah, gue menemukan sebuah tulisan ilmiah yang ditulis oleh Keiko Hirata, seorang peneliti dari Center for the Study of Democracy, University of California.

Salah satu pendapat yang gue temukan di paper ini adalah orang Jepang menganggap paus sebagai ikan, bukan mamalia. Oleh karena itu, mereka menganggap tidak masalah mengkonsumsi paus.

Selain itu, alasan lainnya adalah perburuan paus merupakan salah satu kultur tradisi masyarakat Jepang. Berdasarkan penelitian beberapa peneliti Jepang menemukan bahwa masyarakat Jepang sudah memulai perburuan paus dari jaman primitif Jomon (10,000 – 300 BC).

Untuk lebih lanjut, kamu bisa baca paper ini di: http://www.csun.edu/~kh246690/whaling.pdf

Selamat membaca.