Review

Beberapa minggu ini gue sedang sibuk mencari layanan backup online untuk tempat penyimpanan foto-foto gue. Ukuran total foto gue kurang lebih 180 GB. Gue memilih online backup karena hard disk gue mulai bunyi-bunyi dan gue belum mampu membeli hard disk baru.

Mencari layanan backup online yang mendukung Linux cukup susah, karena sangat jarang yang menyediakan aplikasi untuk Linux. Selain itu, layanan backup online cukup mahal (buat gue), beberapa layanan rata-rata mematok harga mulai $5 per bulan, dimana 70,000/bulan = 840,000/tahun, sama aja beli hard disk baru.

Akhirnya gue memilih layanan Cloud Archive dari Online.net, yaitu C14. C14 ini lebih ke cloud cold storage daripada cloud backup dimana proses backup/restore data lebih ribet daripada cloud backup yang menawarkan kemudahan backup/restore.

Kelebihan C14 buat gue adalah harganya yang murah dan gue bisa memilih kapasitas penyimpanan sesuai kebutuhan gue. Gue memilih kapasitas 200GB dan itu hanya memakan biaya 1 euro per bulan. Edan kan?. C14 mendukung transfer data melalui scp/ftp dimana gue bisa melakukan transfer baik dari Windows maupun Linux dan tidak ada batasan device.

Seperti yang gue bilang di atas, menggunakan Cloud Archive seperti C14 tidak mudah. Ada beberapa proses yang harus dilakukan dan gue ga bisa sesuka hati unggah/unduh file ke C14. Proses yang harus gue jalanin seperti berikut:

Untuk menyimpan data, gue harus mengesktrak dulu arsip yang ada di Online.net (jika sudah ada arsip) ke folder sementara (temporary folder). Lalu gue melakukan transfer data lewat scp/ftp ke folder sementara yang disediakan Online.net, dan jika sudah selesai maka gue harus mengarsipkan kembali arsip (proses pengarsipan kembali otomatis dilakukan dalam 7 hari). Untuk mengunduh data prosesnya juga hampir sama. Gue ekstak dulu arsip, lalu unduh data dari folder sementara (temporary folder). Proses ekstrak dan pengarsipan dilakukan otomatis oleh sistem, gue cukup meminta sistem untuk melakukannya.

Untuk orang awam, proses ini mungkin agak sulit untuk dilakukan, dan juga prosesnya ribet. Namun buat gue, biaya sewa yang murah lebih berarti daripada keribetan proses. Lagipula gue hanya menggunakan untuk backup file tertentu dan bukan backup sistem. Untuk masalah keamanan data, Online.net memberikan garansi yang cukup memuaskan buat gue, dimana mereka memberi garansi SLA 99,99% dan enkripsi data.

Tertarik menggunakan layanan C14 dari Online.net?

Pada postingan blog gue sebelumnya, gue menulis bahwa gue migrasi dari Windows 10 ke Lubuntu. Sekarang, karena hard disk gue terkena bad sector, gue terpaksa berpindah dari Lubuntu ke Linux Mint. Kenapa pindah? karena-entah-kenapa, ketika gue menginstal ulang Lubuntu, Lubuntu beberapa kali error dalam penulisan boot sector. Penasaran kenapa gagal tulis, gue mencoba instal Linux Mint dan proses instalasi berhasil selesai. Ya jadilah gue menggunakan Linux Mint.

Linux Mint yang gue gunakan adalah Linux Mint MATE. MATE adalah DE yang cakep dan elegan, namun lumayan berat jika dibandingkan LXDE, DE pada Lubuntu. Gue termasuk orang yang cukup sensitif dengan penggunaan resource laptop (ya karena laptop gue bukanlah laptop canggih).

Gue sempat mencoba untuk menggunakan XFCE4, namun entah kenapa, kurang sreg dengan XFCE4. Akhirnya gue menginstal LXDE dan menjadikan LXDE sebagai DE default. Yup, gue tau kalo LXDE sedang sekarat, namun sejauh ini gue merasa nyaman dengan LXDE.

Berikut perbandingan penggunaan resource antara MATE dan LXDE:

Penggunaan resource dengan MATE sebagai DE
Penggunaan resource dengan LXDE sebagai DE

Dari hasil percobaan di atas, MATE menggunakan resource (baik RAM dan CPU) lebih daripada LXDE, meskipun perbedaannya tidak terlalu jauh.

MATE sendiri tidak gue remove dari sistem karena beberapa aplikasinya berguna buat gue. Gue lebih suka Caja daripada PCManFM (eject hard disk external lebih mudah menggunakan caja).

Satu hal yang gue temui saat menggunakan Linux Mint 18.1 adalah beberapa kali laptop gue suka freeze sendiri. Tadinya gue pikir ini karena hard disk gue yang bad sector. Namun setelah googling lebih lanjut, ternyata ada sebuah bug untuk controller graphic laptop gue (laptop gue Asus X200MA). Herannya gue ga merasakaan random freeze saat menggunakan Lubuntu.