Pada postingan blog gue sebelumnya, gue menulis bahwa gue migrasi dari Windows 10 ke Lubuntu. Sekarang, karena hard disk gue terkena bad sector, gue terpaksa berpindah dari Lubuntu ke Linux Mint. Kenapa pindah? karena-entah-kenapa, ketika gue menginstal ulang Lubuntu, Lubuntu beberapa kali error dalam penulisan boot sector. Penasaran kenapa gagal tulis, gue mencoba instal Linux Mint dan proses instalasi berhasil selesai. Ya jadilah gue menggunakan Linux Mint.

Linux Mint yang gue gunakan adalah Linux Mint MATE. MATE adalah DE yang cakep dan elegan, namun lumayan berat jika dibandingkan LXDE, DE pada Lubuntu. Gue termasuk orang yang cukup sensitif dengan penggunaan resource laptop (ya karena laptop gue bukanlah laptop canggih).

Gue sempat mencoba untuk menggunakan XFCE4, namun entah kenapa, kurang sreg dengan XFCE4. Akhirnya gue menginstal LXDE dan menjadikan LXDE sebagai DE default. Yup, gue tau kalo LXDE sedang sekarat, namun sejauh ini gue merasa nyaman dengan LXDE.

Berikut perbandingan penggunaan resource antara MATE dan LXDE:

Penggunaan resource dengan MATE sebagai DE
Penggunaan resource dengan LXDE sebagai DE

Dari hasil percobaan di atas, MATE menggunakan resource (baik RAM dan CPU) lebih daripada LXDE, meskipun perbedaannya tidak terlalu jauh.

MATE sendiri tidak gue remove dari sistem karena beberapa aplikasinya berguna buat gue. Gue lebih suka Caja daripada PCManFM (eject hard disk external lebih mudah menggunakan caja).

Satu hal yang gue temui saat menggunakan Linux Mint 18.1 adalah beberapa kali laptop gue suka freeze sendiri. Tadinya gue pikir ini karena hard disk gue yang bad sector. Namun setelah googling lebih lanjut, ternyata ada sebuah bug untuk controller graphic laptop gue (laptop gue Asus X200MA). Herannya gue ga merasakaan random freeze saat menggunakan Lubuntu.

Yup, i ditched Windows 10 from my laptop and switch to Lubuntu. Gue ini sebenarnya die hard Windows user, dan gue sangat amat teramat suka dengan Windows 10. Namun makin kesini Windows 10 makin berat untuk laptop gue yang mungil ini. Hal yang paling buat kesel menggunakan Windows 10 adalah background proccess yang sering kali membuat komputer gue 100% disk write dan not responding. Hal ini terutama terjadi jika gue terhubung ke internet. Beh, bisa 1-2 menit laptop gue ga respon.

Udah berbagai hal gue lakukan seperti disable Windows Update, uninstall aplikasi bawaan, tweak policies, scan virus dan malware, namun tidak memberi hasil yang bagus. So, dengan putus asa, gue berpikir untuk beralih ke Linux. Setelah memikirkan beberapa distro Linux yang ringan, gue akhirnya memilih Lubuntu 17.04.

Lubuntu adalah varian Ubuntu yang menggunakan LXDE sebagai Desktop Environment. Lubuntu adalah distro ringan dengan tampilan biasa aja. Tidak secantik Windows 10 sih. Namun gue terkejut dengan Lubuntu, dimana saat komputer gue idle, Lubuntu hanya ‘memakan’ RAM 200MB-an. Kalo di Windows 10, saat idle RAM gue termakan 1GB!.

Gue pun mencoba untuk mejalankan my daily routine (koding, dengerin musik sambil browsing) dan di Lubuntu semua Task ini hanya memakan memory 1150MB-an. Kalau hal ini gue lakukan di Windows 10, maka memory gue bisa 80%, sekitar 1600MB. Selisih yang jauh. Hal yang paling terpenting, gue ga merasakan komputer gue tiba-tiba not responding karena background task.

Pindah OS berarti juga mesti beradaptasi dengan aplikasi. Salah satu aplikasi yang gue cari adalah music player. Gue merupakan tipe orang yang folder based and not playlist based. Music player kesukaan gue adalah MediaMonkey, dimana untuk pindah-pindah folder sangat gampang. Pada Lubuntu gue menggunakan Clementine dan Quod Libet, meskipun ga semudah MediaMonkey, namun cukup bagus buat gue. Satu hal yang buat gue sedih, gue ga nemu iTunes for Linux. Mungkin gue akan beralih ke Spotify.

Untuk hal yang lain gue belum menemukan kesulitan. Untuk Video Player gue menggunakan VLC. Untuk coding, Sublime tersedia untuk Linux. Browser? Opera dan Firefox. Office? ga butuh-butuh amat dan di Lubuntu sudah tersedia AbiWord dan gnumeric. Hanya Photoshop yang gue masih bingung, mungkin gue akan coba install Photoshop menggunakan WINE.

Satu hal lagi yang cukup bingung adalah menggunakan dual language untuk keyboard. Karena gue lagi belajar (dan buat aplikasi belajar) bahasa Jepang, gue membutuhkan keyboard bahasa Jepang. Namun berkat bantuan om google, hal ini bisa teratasi.

Sampai sejauh ini gue merasakan cukup puas dengan Lubuntu, dan mudah-mudahan seterusnya akan menggunakan Lubuntu.